Bloge Budi Ariyanto — Blog Go Blog, Seko Go Blog Dadi Pinter

Man For Others and With Others

Posts Tagged ‘slackware

Sharing Files Menggunakan Samba

without comments

Lansung saja.. sesuai judulnya.. bet.. bet.. bet.. :D Ini langkah-langkah kalo mau sharing file di Slackware via samba.. :

  1. Login sebagai root, lalu copy sample file konfigurasi samba pada direktori /etc/samba/smb.conf-sample ke direktori yang sama dan ubah namanya menjadi smb.conf dengan perintah cp /etc/samba/smb.conf-sample /etc/samba/smb.conf
  2. Buka file smb.conf menggunakan editor favorit Anda, lalu cari bagian global settings dan cari baris yang bertuliskan security = user. Gantilah menjadi security=shared.
  3. Tambahkan folder yang ingin di-share dengan menambahkan konfigurasi berikut pada file smb.conf :
  4.       [(nama_folder_yang_akan_tampil_di_jaringan)]
                  comment = (deskripsi_terserah)
                  path = (path_folder_yang_dishare)
                  public = yes
                  read only = no
    
  5. Untuk masing-masing folder yang akan dishare dibuatkan konfigurasi seperti di atas. Jika konfigurasi selesai, simpan file tersebut.
  6. Jalankan perintah chmod +x /etc/rc.d/rc.samba, agar samba dapat dijalankan dan aktif secara otomatis sewaktu booting.
  7. Restart komputer Anda atau jalankan perintah /etc/rc.d/rc.samba start untuk mengaktifkan samba.

Untuk mengakses folder yang dishare dari komputer lain, ketikkan URL pada file browser Anda : smb://<ip_address_yang_dituju>/

Jika komputer yang mengakses menggunakan Win****, maka untuk mengaksesnya, ketikkan \\<ip_address_yang_dituju>\

Semoga membantu… :D

Written by Budi Ariyanto

May 17, 2009 at 11:13 am

Posted in IT

Tagged with ,

Menginstall Oracle 10g di Slackware

with 3 comments

Create Oracle user and install and management groups (as root):
groupadd dba
groupadd oinstall
adduser oracle #make the initial group oinstall, and additional groups dba,users

Download (this may not work, in which case you will have to go to http://www.oracle.com to get the download):
wget http://download.oracle.com/otn/linux/oracle10g/ship.db.cpio.gz

unpack:
gunzip ship.db.cpio.gz
cpio -idmv < ship.db.cpio

If your swapdisk is less than a 1GB, then;
dd if=/dev/zero of=/directory/with/much/free/space/tempswap bs=1k count=1000000
chmod 600 tempswap
mke2fs tempswap
mkswap tempswap
swapon tempswap

Next, check required system memory, run this:
sysctl -a

And check those values against these:
Needed Check with
shmmax = 2147483648 cat /proc/sys/kernel/shmmax
shmmni = 4096 cat /proc/sys/kernel/shmmni
shmall = 2097152 cat /proc/sys/kernel/shmall
shmmin = 1 ipcs -lm |grep “min seg size”
semmsl = 250 cat /proc/sys/kernel/sem | awk ‘{print $1}’
semmns = 32000 cat /proc/sys/kernel/sem | awk ‘{print $2}’
semopm = 100 cat /proc/sys/kernel/sem | awk ‘{print $3}’
semmni = 128 cat /proc/sys/kernel/sem | awk ‘{print $4}’
file-max = 65536 cat /proc/sys/fs/file-max
ip_local_port_range = 1024 65000 cat /proc/sys/net/ipv4/ip_local_port_range

Note: Don’t change the value of any kernel parameter on a system where it is already higher than listed as Needed.
If they are found lacking, modify /etc/sysctl.conf:
# Kernel Parameters for Oracle 10.1.0
kernel.shmall = 2097152
kernel.shmmax = 2147483648
kernel.shmmni = 4096
kernel.sem = 250 32000 100 128
fs.file-max = 65536
net.ipv4.ip_local_port_range = 1024 65000

Then, to make these values effective immediately (without a reboot), run:
sysctl -p
Read the rest of this entry »

Written by Budi Ariyanto

April 18, 2009 at 7:46 am

Posted in IT

Tagged with ,

Upgrade Slackware ke KDE 4.2

without comments

Akhirnya KDE 4.2 stable udah rilis juga.. Nah bagi para slackers, aku mau bagi2 tutorial cara upgrade ke KDE 4.2.

  1. Download paket-paket yang ada di slackware-current yang diperlukan untuk menginstall KDE 4.2 di mirror slackware terdekat. Pada umumnya terdapat pada direktori slackware-current/testing/packages/kde4/
  2. Backuplah directori .kde pada home direktori Anda, dan juga /etc/kde. File-file ini dibackup agar nanti jika Anda kembali ke KDE 3 tidak usah mengkonfigurasi ulang sistem Anda. Cukup copy kan file-file yang sudah dibackup tadi pada tempatnya semula.
  3. Keluar dari KDE dan masuklah ke mode teks atau window manager yg lain. Tapi kalau saya lebih suka pakai mode teks. Login sebagai root.
  4. Hapus semua paket KDE 3 dengan script bash yang sudah tersedia, yaitu script remove-kde3.sh. Abaikan semua pesan yg ada di sana. Pokoknya setelah menjalankan script ini dijamin paket2 KDE 3 dijamin bersih.. Ada baiknya juga Anda juga menjalankan script remove-kde4.sh untuk membersihkan paket-paket KDE 4 jika Anda dulu pernah menginstallnya. Nah, sampai di sini, komputer Anda bebas dari window manager yg bernama KDE :D
  5. Hapuslah directori .kde pada home direktori Anda, dan juga /etc/kde. Lhoh, kok dihapus? Iya. Supaya menghindari masalah saat instalasi KDE 4.2 nanti. Toh file-file tersebut sudah dibackup.
  6. Install semua paket-paket pada direktori deps, extragear, kde, dan kde3-compat dengan perintah(sebagai root)
    upgradepkg --install-new deps/*.tgz extragear/*.tgz kde/*.tgz kde3-compat/*.tgz
    
  7. Jalankan perintah xwmconfig untuk memilih window manager KDE yang baru.
  8. Jalankan kembali X Window dengan perintah startx.

Selesai! :D KDE 4.2 pun sudah bisa dinikmati.
Catatan :

  • Hapus paket yg bernama hplip-2.8.10-i486-1 dengan pkgtool, karena paket ini membutuhkan PyQt 3 yang sudah tidak terinstall lagi di sistem Anda. Jadi daripada ada tapi tidak berguna, mending dihapus saja sekalian.
  • KDE 4.2 sudah ada bawaan efek-efek seperti compiz/compiz-fusion. Jadi kalau Anda sebelumnya menginstall paket2 compiz-fusion, lebih baik dihapus saja.
  • Di KDE 4.2 ini, aplikasi Quanta+ akan hilang entah kemana.. hehehe.. Jadi para pencinta Quanta+ akan bersedih hati tampaknya.

Written by Budi Ariyanto

February 1, 2009 at 12:15 pm

Posted in IT

Tagged with ,

Kenapa Slackware?

with 7 comments

Dalam memilih distro linux, kita mungkin bingung karena saking banyaknya pilihan distro. Apalagi kalau baru mulai mengenal linux.. Wah.. mau install linux yang mana ya??? Sebetulnya setiap distro linux menawarkan keunikannya sendiri-sendiri. Misalnya Ubuntu menawarkan ease-of-use nya, Fedora menawarkan kecantikannya, openSUSE menawarkan kompatibilitasnya terhadap Windows dan Slackware menawarkan kesimpelan, keringanan dan kestabilan distronya. Namun pada umumnya, sekarang distro linux sudah sangat mudah digunakan karena sepertinya para developer linux sudah mulai menganggap linux juga bisa difungsikan untuk komputer desktop.
Nah, dalam perjuangan saya memilih distro dari mencoba-coba Ubuntu, Fedora, OpenSUSE, Mandriva dan Slackware, akhirnya saya stop di Slackware dan saat ini saya menggunakan Slackware 12.2. Mengapa saya fix dan merasa nyaman menggunakan Slackware?Nha ini dia jawabannya :

  1. Secara default, Slackware menyediakan tools-tools untuk programming
    Bagi Anda-Anda yang suka programming(aliran opensource :D ), cobalah distro yang satu ini. Pertama kali install Slackware sudah tersedia tools antara lain : KDevelop(untuk C/C++, KDE(Qt3 dan Qt4), Ruby dan HTML), Java Runtime Environtment, Quanta Plus(HTML, PHP, CSS, JavaScript dll lengkap dengan intellisensenya), Cervisia(CVS) dan KDiff(untuk meng-compare source code). Bagi yang suka Java, Java Development Kit 6 update 11 sudah tersedia di paket extra di CD 4 Slackware.
  2. Simpel
    Slackware itu simple. Maksudnya konfigurasi dari aplikasi-aplikasi yang ada masih original dari yang membuat project. Juga tidak ada wallpaper tambahan dan tambahan-tambahan lain yang tidak perlu. Sistem dari Slackware juga dianggap paling mirip dengan UNIX. Namun seringkali kesimpelan-kesimpelan tersebut membuat distro ini kurang nyaman dipakai oleh pemula karena kurangnya fasilitas berbasis GUI.
  3. Slackware support MP3 by default
    Distro-distro besar selain Slackware seperti Ubuntu, openSUSE dan Fedora tidak bisa memainkan file MP3 secara default karena memang tidak menyertakan codecnya(MP3 dianggap format terlarang, dalam artian dianggap memicu pembajakan). Jadi kalo mau mendengarkan lagu kesayangan harus download codecnya di situs repositori.. wah repot bagi saya. hehe…
  4. Slackware itu stabil
    Patrick Volkerding si pembuat Slackware berusaha untuk merilis distronya sestabil mungkin. Mulai dari paket-paket defaultnya yang disertakan adalah 99,9% merupakan paket stabil. Tapi hal ini agak sedikit mengorbankan ke-up to date-an paket-paket yang ada. Misal Slackware yang paling baru(12.2) masih menggunakan KDE 3.5.10, padahal KDE 4.1 sudah dirilis. Slackware 12.2 juga masih menggunakan Amarok 1.4 padahal Amarok 2.0 sudah rilis. Hal ini semata-mata demi sebuah kestabilan.
    Slackware juga tahan nyala berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tidak seperti distro lain yang pernah saya coba. kadang-kadang sewaktu mengkopi file tiba-tiba hang atau tanpa sebab hang sendiri atau waktu mencoba-coba screensaver juga pernah hang. Slackware bebas dari itu semua.
  5. Belajar Salckware berarti belajar linux
    Pernah saya lihat di internet ada yang mengungkapkan seperti ini : “If you want to learn Red Hat, then start learning Red Hat, but if you want to learn Linux, start learning Slackware”. Ya, menurut saya ungkapan itu benar adanya. Karena menurut pengalaman saya, dulu ketika saya masih menggunakan distro selain Slackware saya tidak tahu dalamnya linux itu seperti apa karena sudah saking nyamannya menggunakan distro-distro tersebut. Tapi setelah menggunakan Slackware, secara tidak langsung saya seperti dipaksa untuk mempelajari sistem operasi LINUX. Jika Anda tidak percaya, cobalah sendiri.. hehehe
  6. Manajemen paket di Slackware lebih mudah dari distro lain
    Kalau orang bicara paket di linux, pasti terpikir juga istilah dependensi. Dependensi adalah paket lain yang dibutuhkan untuk menginstall paket yang dimaksud. Nah distro-distro seperti keluarga Debian menggunakan ekstensi .deb dan keluarga Red Hat menggunakan ekstensi .rpm untuk paketnya. Namun sayangnya manajemen paket-paket tersebut hanya berdampak pada kemudahan instalasi paket saja dan tidak membantu sama sekali dalam masalah dependensi. Nah, tidak demikian dengan Slackware. Slackware menawarkan manajemen paketnya yang berekstensi tgz, yang di dalamnya sudah dibundle dependensi dari aplikasi tersebut. Jadi kalau download paket tgz, tidak usah mikir dependensinya.. Asik sekali kan?
    Dan lagi, kita bisa membuat paket tgz sendiri menggunakan Slackbuild script, atau bisa langsung pakai Slackbuild scriptnya yang bisa didownload di http://slackbuild.org/

Nah itu adalah alasan saya kenapa menggunakan Slackware. Tapi memilih distro juga merupakan selera. Jadi tetap pastikan oleh Anda sendiri, distro mana yang paling cocok buat Anda.

Written by Budi Ariyanto

December 18, 2008 at 10:26 am

Posted in IT

Tagged with ,

Slackware 12.2 Released :)

with one comment

– Announcement dari Slakware.com –

Well folks, it’s that time to announce a new stable Slackware release
again. So, without further ado, announcing Slackware version 12.2!
Since we’ve moved to supporting the 2.6 kernel series exclusively (and
fine-tuned the system to get the most out of it), we feel that Slackware
12.2 has many improvements over our last release (Slackware 12.1) and is
a must-have upgrade for any Slackware user.

This Slackware edition combines Slackware’s legendary simplicity (and
close tracking of original sources), stability, and security with some
of the latest advances in Linux technology. Expect no less than the best
Slackware yet.

Among the many program updates and distribution enhancements, you’ll find
two of the most advanced desktop environments available today: Xfce 4.4.3,
a fast and lightweight but visually appealing and easy to use desktop
environment, and KDE 3.5.10, the final 3.x version of the award-winning K
Desktop Environment. We have added to Slackware support for HAL (the
Hardware Abstraction Layer) which allows the system administrator to add
users to the cdrom and plugdev groups. Then they will be able to use items
such as USB flash sticks, USB cameras that appear like USB storage,
portable hard drives, CD and DVD media, MP3 players, and more, all without
requiring sudo, the mount or umount command. Just plug and play.
Properly set up, Slackware’s desktop should be suitable for any level of
Linux experience.

Slackware uses the 2.6.27.7 kernel bringing you advanced performance
features such as journaling filesystems, SCSI and ATA RAID volume support,
SATA support, Software RAID, LVM (the Logical Volume Manager), and
encrypted filesystems. Kernel support for X DRI (the Direct Rendering
Interface) brings high-speed hardware accelerated 3D graphics to Linux.

There are two kinds of kernels in Slackware — the huge kernels, which
contain support for just about every driver in the Linux kernel. These are
primarily intended to be used for installation, but there’s no real reason
that you couldn’t continue to run them after you have installed. The
other type of kernel is the generic kernel, in which nearly every driver
is built as a module. To use a generic kernel you’ll need to build an
initrd to load your filesystem module and possibly your drive controller
or other drivers needed at boot time, configure LILO to load the initrd at
boot, and reinstall LILO. See the docs in /boot after installing for more
information. Slackware’s Linux kernels come in both SMP and non-SMP types
now. The SMP kernel supports multiple processors, multi-core CPUs,
HyperThreading, and about every other optimization available. In our own
testing this kernel has proven to be fast, stable, and reliable. We
recommend using the SMP kernel even on single processor machines if it
will run on them.

From the beginning, Slackware has offered a stable and secure Linux
distribution for UNIX veterans as well as an easy-to-use system for
beginners. Slackware includes everything you’ll need to run a powerful
server or workstation. Each Slackware package follows the setup and
installation instructions from its author(s) as closely as possible,
offering you the most stable and easily expandable setup.

Here are some of the advanced features of Slackware 12.2:

- Runs the 2.6.27.7 version of the Linux kernel from ftp.kernel.org.
Also included is a kernel patched with Speakup to support speech
synthesizers providing access to Linux for the visually impaired
community. The 2.6.x kernel series has matured into a stable
kernel, and provides reliable performance for your desktop or
your production server.
Read the rest of this entry »

Written by Budi Ariyanto

December 11, 2008 at 11:45 am

Posted in IT

Tagged with

Membuat Paket TGZ dengan SlackBuild Script

with 2 comments

Jika Anda menggunakan Slackware Linux sebagai sistem operasi Anda, sebagai alternatif menginstall aplikasi / library selain compile + install dari source code, Anda bisa menggunakan Slackbuild script yg bisa didownload dari http://www.slackbuild.org/. Tapi.. bagaimana ya cara menggunakan Slackbuild script tersebut?Mudah kok. Ikuti saja langkah-langkah berikut ini:

  1. Download source code aplikasi yang ingin diinstall dan slackbuild script aplikasi yang bersangkutan dari http://www.slackbuild.org/
  2. Jika ada dependensi, download juga dependensi tersebut. Biasanya dependensi juga sudah tersedia di http://www.slackbuild.org/. Namun jika belum ada, ya terpaksa cari sendiri. Googling misalnya.
  3. Extract Slackbuild script karena Slackbuild script dikompres dalam paket tar.gz.
  4. Copy paket source dan dependensinya(jika ada) ke dalam paket Slackbuild yang barusan diextract tadi. Tidak usah extract paket source dan dependensinya.
  5. Jika semua langkah 1-4 sudah benar, buka konsole. Masuk ke direktori Slackbuild, lalu cari file dengan ekstensi .Slackbuild. Jika sudah ketemu, buka konsole dan ketik ./nama_aplikasi.Slackbuild(misal ./pidgin.Slackbuild, tergantung dari slackbui;d yang Anda download)
  6. Tunggu proses pencompilan selesai. Menunggu proses ini kadang memang lama, apalagi kalau paket yang Anda compile berukuran besar. Jika sudah selesai, secara default Anda dapat mengambil paket TGZ buatan Anda di /tmp/SBo/

Written by Budi Ariyanto

December 6, 2008 at 5:24 am

Posted in IT

Tagged with ,

Akhirnya… Bisa Connect Speedy Pakai Slackware 12.1

with 5 comments

Udah 2 hari aku nggak bisa connect internet… Kemaren habis install Slackware 12.1 di compieku… Sebelum pake Slackware aku pake Opensuse 11.0.. Wew.. di compieku Opensuse banyak error… apa karena masih versi 11.0 ya? Hehe.. menurut pengamatan sih biasanya Opensuse udah stabil dan paling enak dipakai pada versi X.3(X diganti angka)….
Tapi yang jelas setelah mencoba Slackware untuk yang kedua kalinya…. akhirnya aku bisa luluh sama disro yang satu ini :D .. Pertama kali mencoba Slack, pertama kali pula aku benar2 menjajal linux… belom terbiasa sama sekali. Padahal di Slackware, umumnya konfigurasi manual dan pada saat itu nggak ada yang bantuin belajar selain seorang dosenku. Pak Willy namanya… Jadi pertama belajar linux.. susahnya minta ampun dah… Tapi akhirnya setelah 4 bulan pake linux akhirnya terbiasa juga… dari Slackware, Ubuntu, Fedora, Mandriva, OpenSUSE….. akhirnya kembali ke Slackware lagi… wew.. udah bosen ganti-ganti distro terus… Moga-moga stop aja di sini…
Nah kemaren sempat berpikir mau pindah lagi karena nggak bisa konek internet.. tapi dengan ketabahan hati… aku seharian googling di warnet, konfigurasi network di rumah, googling lagi, konfigurasi network lagi… sampai capek bolak-balik warnet-rumah berapa kali… akhirnya hari pertama gagal.. Hari kedua.. gagal juga… akhirnya hari ketiga(hari ini), setelah ketemu dedengkot Slackware di kampus alias Pak Willy.. akhirnya aku dapet pencerahan dan akhirnya bisa!!!!!!!! Wwkwkwkw… seneng banget aku.. ternyata pake DHCP aja dan hidupin modem sebelum komputer on bisa.. Nah ini tutorialnya :

  1. Connectkan komputer ke 192.168.1.1
    Dengan mengconnectkan komputer ke alamat IP tersebut, kamu akan masuk ke bagian konfigurasi router. Jika diminta mengisi username dan password, defaultnya adalah username = admin, password = password.
  2. Konfigurasi Router Speedy ke mode PPPoE
    Konfigurasilah router speedy di bagian WAN, kalo masih pake bridge diganti ke PPPoE.. Lalu next sampai ketemu form isian yang menyuruh kita mengisi username dan password. Isi username dan password tersebut sesuai yang dikasih ISP(Speedy). Kalau passwordmu sudah kamu ubah sendiri, ya yang dipakai password yang sudah diubah ini. Next terus sampai ada tombol save. Klik. Trus restart modem.
  3. Jalankan netconfig pada shell(sebagai root) untuk mengkonfigurasi network
    Setelah menjalankan perintah di atas, kamu akan disuruh mengisi hostname. Isi saja terserah. Kedua, kamu akan disuruh mengisi domain name. isi terserah juga. Selanjutnya kamu akan disuruh setup IP address. Pilih yang DHCP. Selanjutnya tinggal enter sampai selesai.
  4. Jalankan /etc/rc.d/rc.inet1 untuk mengaktifkan konfigurasi network
    ketik saja perintah ini /etc/rc.d/rc.inet1
  5. Minta IP ke ISP
    Langkah terakhir, minta IP address ke ISP… caranya dengan pakai perintah :
    dhcpcd -d -t 20 eth0
    nanti akan dapet IP dari ISP. Nanti akan dapet IP 192.168.1.2. Kalo speedynya dishare nanti IP-nya akan ngikut. Jadi misal untuk komputer kedua IPnya 192.168.1.3 dan seterusnya. Beres.. tinggal browsing :D

Nanti kalau komputernya dihidupkan pertama kali, kalau pengen langsung dapet IP otomatis dari ISP, nyalain modem dan tunggu sekitar 20 detik baru tombol on komputer ditekan… Kalo lupa dan sudah masuk linux, caranya dapet IP tinggal ulangi langkah 5. Habis itu.. browsing lageee….. heheheheh…

Written by Budi Ariyanto

November 13, 2008 at 3:56 pm

Posted in My Life

Tagged with , ,